Get access

Herpetofaunal Richness and Community Structure of Offshore Islands of Sulawesi, Indonesia1

Authors


  • 1

    Received 26 August 2003; revision accepted 3 September 2004.

Corresponding author. Current address: Zoos Victoria, P.O. Box 74, Parkville, Victoria 3052, Australia; e-mail: graeme.gillespie@dse.vic.gov.au

ABSTRACT

We examined the distribution and broad habitat associations of the herpetofauna on three offshore islands of southeast Sulawesi, Indonesia. A total of 74 amphibian and reptile taxa were recorded, comprising 13 frogs, 29 lizards, 29 snakes, 1 freshwater turtle, and 1 crocodile. Of the total taxa, 38 percent were endemic to Sulawesi, 13 were new undescribed taxa. Range extensions were also recorded for one taxon previously not known from Sulawesi. Herpetofauna of these islands is largely derived from that of mainland Sulawesi, and as for Sulawesi generally, is depauperate compared with herpetofaunal assemblages in Borneo, Java, and Thailand. Taxon richness was much higher in minimally disturbed forest and forest habitats with only moderate disturbance levels than in highly modified or disturbed habitats, such as secondary forests, plantations, and villages. Disturbed habitats were characterized by widespread, habitat generalists and human commensals. Forests were characterized by endemic and habitat-specialist taxa. Little discrimination of taxon composition or endemism was found between minimally and moderately disturbed forest habitats. These results reaffirm the need for more general biological survey and research in this region. Taxa most likely to be displaced by human impacts tend to be endemic taxa, for which there exists little or no ecological information. The similarity in the herpetofaunal community structure between habitats with minimal and moderate disturbance levels has important implications for our understanding of ecological resilience in tropical herpetofaunal communities.

RESUMEN

Herpetofauna di kepulauan lepas pantai Sulawesi Tenggara: Kekayaan jenis, asosiasinya dengan habitat serta hubungan antara struktur komunitasnya dan gangguan ulah manusia. Telah diteliti luas sebaran dan asosiasinya dengan habitat herpetofauna di tiga buah kepulauan lepas pantai di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Tercatat sejumlah 74 taksa amfibia dan reptilia meliputi: 13 jenis katak, 29 jenis bengkarung, 29 jenis ular, 1 jenis kura-kura air tawar dan 1 jenis buaya. Ada jenis-jenis endemik 38 percent sedangkan13 taksa di antaranya merupakan jenis baru yang belum dipertelakan. Ada satu jenis rekor baru yang sebaran sebelumnya tak di kenal di Sulawesi. Herpetofauna di kepulauan ini berasal dari daratan Sulawesi sedangkan jenis-jenis amfibia – reptilia di Sulawesi sendiri sangat sedikit jumlahnya bila dibandingkan dengan gabungan jumlah yang ada di Kalimantan, Jawa dan Siam. Di hutan yang mengalami sedikit gangguan dan di habitat dengan tingkat perubahan sedang terdapat lebih kaya kaya jenis dari pada di kawasan yang sudah terganggu atau habitat yang sudah banyak berubah sebagai hutan sekunder, kebun dan pedesaan. Di habitat yang telah terganggu maka ditemukan jenis-jenis yang umum dan biasa terdapat di hunian manusia. Di hutan yang masih utuh ditemukan jenis-jenis endemik dan jenis yang khas menurut habitatnya. Di antara habitat hutan yang menglami sedikit gangguan dan yang mendapat gangguan sedang tidak terdapat perbedaan nyata kompsisi jenis maupun endemisme jenis. Kesimpulan ini mengukuhkan perlunya agar lebih menaruh perhatian dilakukan survai dan penelitian alam hayati di kawasan ini. Karena ulah manusia cenderung berdampak pada jenis-jenis endemik di kawasan ini tersingkirkan tanpa atau sedikit sekali keterangan mengenai lingkungan hidupnya. Adanya kesamaan struktur komumitas herpetofauna yang ada di antara habitat yang mengalami gangguan minimal dan gangguan sedang bermakna penting sekali dalam pengertian guna upaya pemulihan lingkungan bagi komunitas herpetofauna di kawasan tropis.

Get access to the full text of this article

Ancillary