SEARCH

SEARCH BY CITATION

Keywords:

  • conservation;
  • habitat quality;
  • Indonesia;
  • Kalimantan;
  • source-sink population dynamics

ABSTRACT

I estimated habitat-specific population densities for a population of Bornean white-bearded gibbons Hylobates albibarbis inhabiting seven distinct forest types at Gunung Palung National Park, West Kalimantan, Indonesia. Population densities in montane forests (0.44 individuals/km2) were almost ten times lower than those in the next best habitat (upland granite forest; 4.2 individuals/km2) and far lower than those in lowland forest types. Demographic data on 33 gibbon groups living across the seven forest types showed that reproduction was substantially depressed in montane forests compared to high-quality lowland habitats. A simple model suggests that montane forests are demographic sinks for gibbons at Gunung Palung. Follow-up data from observations of montane groups 5 yr after the initial observation period support this result. As high-quality lowland forests (source habitat for gibbons) are being disproportionately lost in and around Gunung Palung National Park due to illegal logging and conversion to oil palm plantations, an increasing percentage of the remaining forest in the park comprises sink habitat for gibbons. This result has disquieting implications for the long-term viability of gibbon populations at Gunung Palung. In addition, as montane forests are generally low-quality habitat for most rainforest vertebrates, and since lowland forests are being lost at alarming rates across the tropics, source-sink population dynamics similar to those I describe here may characterize populations of other tropical vertebrate species.

ABSTRAK

Saya dapat taksirkan kepadatan populasi kelempiao berjanggut putih Borneo (Hylobates albibarbis) yang menempati tujuh tipe hutan yang berbeda di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat, Indonesia. Kepadatan populasi di hutan pengunungan (0.44 individu/km2) hampir sepuluh kali lebih rendah daripada hutan dataran tinggi granit (4.2 individu/km2), dan jauh lebih rendah daripada tipe-tipe hutan di dataran rendah. Data-data demografis mengenai 33 kelompok kelempiao yang menempati tujuh tipe hutan ini membuktikan bahwa reproduksi lebih rendah di hutan pegunungan dibandingkan dengan habitat yang berkwalitas di dataran rendah. Saya ciptakan model sederhana dan dari model ini saya ambil kesimpulan bahwa hutan pegunungan menjadi salah satu sink demografik untuk kelempiao di Gunung Palung. Saya mendapatkan beberapa kelompok kelempiao di hutan pegunungan setelah lima tahun observasi pertama yang mendukung kesimpulan tersebut. Karena luasan hutan di dataran rendah (habitat berkwalitias tinggi untuk kelempiao) semakin berkurang di dalam dan sekitar Taman Nasional Gunung Palung oleh penebangan liar dan konversi menjadi lahan kelapa sawit, semakin banyak hutan yang tersisa di dalam taman nasional merupakan habitat sink untuk kelempiao. Ini bisa menjadi ancaman terhadap populasi kelempiao di Gunung Palung. Di samping menjadi ancaman terhadap kelempiao, hutan pegunungan biasanya merupakan habitat berkwalitas rendah untuk hewan-hewan vertebrate di hutan tropis, dan karena hutan di dataran rendah semakin berkurang dengat cepat di seluruh daerah tropis, ada kemungkinan dinamika source-sink seperti saya laporkan di sini juga terjadi dengan populasi veretebrate tropis lain.